Oleh: Tiara Putri, Nadia Rahmanina, Arung Samudera (Tim ESP)
Bulan Ramadhan menjadi momen yang tidak hanya sekedar bagi kita untuk meningkatkan ibadah, tetapi juga momen yang tepat untuk merefleksikan sejarah dan kontribusi besar umat Islam terhadap peradaban dunia. Salah satu kontribusi penting umat Islam tersebut adalah dalam bidang ilmu pengetahuan (sains).
Pada masa keemasan peradaban Islam, banyak ilmuwan Muslim yang melakukan penelitian, eksperimen, serta penemuan yang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan Ilmu Pengetahuan modern. Kontribusi mereka mencakup berbagai bidang seperti Matematika, Kimia, Fisika, Optik, hingga Kedokteran.
Menariknya, banyak metode ilmiah yang mereka temukan di masa tersebut masih digunakan hingga saat ini, baik dalam penelitian ilmiah maupun dalam kegiatan eksperimen sains sederhana untuk pembelajaran.
Berikut beberapa tokoh ilmuwan Islam yang berjasa dalam menyebarkan dan mengembangkan sains.
Jabir bin Hayyan: Ilmuwan yang Meletakkan Dasar Metode Ilmiah Kimia
Jabir Bin Hayyan dikenal sebagai salah satu ilmuwan Muslim yang berperan besar dalam perkembangan Ilmu Kimia. Ia hidup pada abad ke-8 dan sering disebut sebagai Bapak Kimia eksperimental karena memperkenalkan metode eksperimen yang sistematis dalam penelitian.

Melalui penelitiannya, Jabir mengembangkan berbagai teknik pemisahan zat yang masih digunakan hingga saat ini, baik di laboratorium maupun dalam industri kimia. Beberapa teknik tersebut antara lain distilasi, kristalisasi, sublimasi, dan filtrasi.
Konsep-konsep dalam Ilmu Kimia ini juga dapat diperkenalkan kepada anak-anak melalui berbagai kegiatan eksperimen sains sederhana yang menyenangkan.
Distilasi (Penyulingan)
Distilasi adalah proses pemisahan campuran zat cair berdasarkan perbedaan titik didihnya. Artinya, zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu, kemudian uap tersebut didinginkan kembali menjadi cairan sehingga bisa dipisahkan dari campurannya. Metode distilasi banyak digunakan dalam berbagai bidang, seperti:
- Pemurnian air
- Pembuatan minyak atsiri
- Industri kimia dan farmasi
Prinsip sederhana ini membantu kita memahami bagaimana zat dalam suatu campuran dapat dipisahkan berdasarkan sifat fisiknya.
Kristalisasi
Kristalisasi adalah proses pembentukan zat padat berbentuk kristal dari suatu larutan. Proses ini biasanya dilakukan untuk memisahkan atau memurnikan zat dari campurannya. Ketika suatu larutan mengandung banyak zat terlarut, lalu airnya menguap atau didinginkan, zat tersebut akan berubah menjadi butiran padat (kristal) yang terpisah dari cairannya.
Contoh kristalisasi dalam kehidupan sehari-hari antara lain:
- Gula batu → terbentuk dari larutan gula yang dibiarkan mengkristal
- Garam yang dibuat dari air laut → airnya menguap, tersisa kristal garam
Metode ini sering digunakan dalam kimia untuk memurnikan suatu zat.
Sublimasi
Sublimasi adalah perubahan wujud zat dari padat langsung menjadi gas tanpa melalui fase cair. Biasanya, benda padat akan mencair dulu sebelum menjadi gas. Tapi pada sublimasi, zat padat bisa langsung berubah menjadi gas saat dipanaskan.
Contoh sederhana sublimasi dapat dilihat ketika es batu yang disimpan terlalu lama di dalam freezer terlihat menyusut. Hal ini terjadi karena sebagian molekul air berubah langsung menjadi uap tanpa mencair terlebih dahulu.
Fenomena sublimasi juga dapat ditemukan pada makanan beku seperti roti atau donat yang disimpan lama di freezer. Permukaannya dapat terlihat lebih kering karena kandungan air di dalamnya berubah menjadi uap.
Dalam kegiatan eksperimen sains untuk anak-anak, konsep perubahan wujud zat seperti ini dapat diperkenalkan melalui percobaan sederhana yang menyenangkan, salah satunya melalui eksperimen bath bomb di Einstein Science Project.
Filtrasi
Filtrasi adalah proses penyaringan untuk memisahkan zat padat dari cairan.Dalam kehidupan sehari-hari, proses ini sering digunakan untuk menjernihkan air atau menyaring kotoran dari suatu cairan.Contoh sederhana filtrasi adalah ketika membuat teh. Saringan digunakan untuk memisahkan daun teh dari air, sehingga hanya cairannya yang diminum.Konsep filtrasi membantu kita memahami bagaimana suatu bahan dapat dipisahkan melalui proses penyaringan.
Al-Khwarizmi: Ilmuwan Muslim di Balik Dasar-Dasar Aljabar
Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi merupakan ilmuwan Muslim yang memberikan kontribusi besar dalam bidang matematika, geografi, dan astronomi. Ia hidup pada abad ke-9 dan karyanya memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan hingga saat ini.

Bahkan, istilah algoritma (algoritma) yang sangat penting dalam dunia komputer modern berasal dari nama Al-Khwarizmi.
Kontribusi dalam Matematika
Karya terbesar Al-Khwarizmi adalah pengembangan Ilmu Aljabar. Melalui tulisannya, ia menjelaskan berbagai metode untuk menyelesaikan persamaan Matematika, termasuk persamaan linear dan kuadrat. Dua konsep utama yang iya perkenalkan adalah:
- Al-Jabr → memindahkan suku dalam persamaan
- Al-Muqabala → menyeimbangkan kedua sisi persamaan
Konsep-konsep ini menjadi dasar dari pembelajaran matematika modern.
Kontribusi dalam Geografi
Dalam karyanya Kitāb Ṣūrat al-Arḍ (Buku Gambaran Bumi), Al-Khwarizmi memperbaiki peta dunia yang sebelumnya dibuat oleh ilmuwan Yunani, Claudius Ptolemy.
Ia mengoreksi lebih dari 2.400 koordinat lokasi seperti kota, sungai, gunung, dan garis pantai sehingga peta dunia menjadi lebih akurat dibandingkan sebelumnya.
Astronomi dan Trigonometri
Al-Khwarizmi juga mengembangkan metode perhitungan astronomi yang digunakan untuk:
- Menentukan kalender
- Navigasi perjalanan
- Mengamati benda langit
Untuk melakukan perhitungan tersebut, ia mengembangkan konsep sinus, cosinus, dan tangen, yang hingga kini masih dipelajari dalam matematika.
Ibnu Haitham: Ilmuwan yang Mengungkap Rahasia Cahaya
Ibn al-Haitham adalah ilmuwan Muslim abad ke-10 yang dikenal sebagai pelopor ilmu optik. Ia memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap fenomena alam, terutama tentang cahaya dan proses penglihatan manusia. Penelitiannya dituliskan dalam karya terkenal Kitab al-Manazir (Book of Optics) yang menjadi salah satu dasar perkembangan ilmu optik modern. Dalam penelitiannya, Ibnu Haitham menjelaskan bahwa manusia dapat melihat karena:
- Cahaya dari suatu sumber mengenai suatu objek
- Cahaya dipantulkan oleh objek
- Pantulan cahaya masuk ke mata manusia
Ia juga menunjukkan bahwa cahaya:
- Bergerak dalam garis lurus
- Dapat dipantulkan
- Dapat dibiaskan oleh berbagai permukaan
Penelitian ini menjadi dasar penting bagi perkembangan ilmu optik modern.
Eksperimen Kamera Obscura
Salah satu eksperimen terkenal Ibnu Haitham adalah kamera obscura, yaitu sebuah ruangan atau kotak gelap yang memiliki lubang kecil. Ketika cahaya dari luar masuk melalui lubang tersebut, cahaya akan membentuk bayangan objek pada permukaan di dalam ruangan.
Melalui eksperimen ini, Ibnu Haitham menunjukkan bahwa cahaya bergerak dalam garis lurus dan dapat membawa informasi visual dari suatu objek.

Prinsip sederhana inilah yang kemudian menjadi dasar perkembangan teknologi kamera modern.
Konsep kamera obscura juga dapat dipelajari melalui eksperimen sains sederhana. Di Einstein Science Project, anak-anak dapat mencoba membuat eksperimen camera obscura menggunakan bahan-bahan sederhana. Melalui aktivitas ini, mereka dapat melihat secara langsung bagaimana cahaya membentuk bayangan dan memahami prinsip dasar cara kerja kamera dengan cara yang menyenangkan.
Ibnu Sina: Pelopor Ilmu Kedokteran Modern dari Dunia Islam
Abu Ali al-Hussain Ibn Abdullah Ibn Sina atau Ibnu Sina atau di dunia barat lebih dikenal dengan Avicenna merupakan salah satu ilmuwan sains yang kita sebut dengan Bapak Kedokteran dunia. Ibnu Sina lahir pada tahun 980M dan meninggal pada tahun 1037 M. Ibnu Sina sudah menguasai ilmu fisika, matematika, logika, metafisika dan mulai mempelajari dan mempraktikkan kedokteran sebelum berusia 16 tahun. Ia menulis banyak karya dari berbagai disiplin ilmu dan karyanya yang paling terkenal adalah Al Qanun di al-Thibb (The Canon of Medicine). Buku ini menjadi salah satu referensi penting dalam dunia kedokteran selama berabad-abad. Selain karya tulis, penemuan apa saja yang sudah ditemukan oleh Ibnu Sina? Mari kita bahas beberapa penemuannya!

Sifat Penyakit Menular :
Ibnu Sina memiliki hipotesis/dugaan bahwa penyakit dapat ditularkan melalui udara, air, dan tanah. Hipotesis ini muncul dari pengamatannya terhadap penyakit tuberkulosis atau TBC. Ia menyampaikan bahwa penyakit dapat ditularkan melalui udara. Dengan pemahaman ini, pengembangan metode pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan lebih tepat. Pemikiran tersebut menjadi salah satu dasar awal dalam memahami penyebaran penyakit menular.
Metode Pencegahan Penyebaran Penyakit melalui Karantina :
Apakah teman-teman masih ingat dengan kejadian Covid-19? Pada masa tersebut kita sering mendengar istilah karantina atau isolasi. Karantina merupakan usaha untuk memisahkan seseorang yang terpapar suatu penyakit untuk mencegah penularan kepada orang lain. Karantina ini ternyata sudah dijelaskan oleh Ibnu Sina sejak berabad-abad yang lalu. Ia menjelaskan bahwa penyakit bisa menyebar melalui partikel yang sangat kecil, bahkan tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Metode ini merupakan hal dasar untuk ilmu karantina modern di masa kini.
Metode Pengobatan Menggunakan Penyuntikan :
Ketika teman-teman masih kecil, apakah teman-teman pernah di vaksin atau imunisasi? Dalam perkembangan kedokteran, metode pemberian obat melalui penyuntikan juga menjadi bagian penting. Ibnu Sina menjelaskan bahwa obat dapat diberikan melalui penyuntikan di bawah kulit untuk membantu proses pengobatan. Metode ini kemudian berkembang dalam dunia kedokteran modern dan memungkinkan pemberian obat secara lebih efektif kepada pasien.
Penggunaan Eksperimen dalam Kedokteran :
Pada masa sebelum Ibnu Sina, proses diagnosis penyakit sering kali hanya mengikuti kepercayaan tradisional atau teks kuno tanpa pengujian ilmiah. Akibatnya, tidak ada standar yang jelas dalam pemberian obat kepada pasien. Ibnu Sina menekankan pentingnya observasi klinis dan eksperimen dalam praktik kedokteran. Ia menyusun aturan untuk pengujian obat secara ilmiah serta mengklasifikasikan penyakit dan metode pengobatan secara sistematis.
Ia juga menjelaskan bahwa potensi suatu obat dapat diketahui melalui eksperimen, bukan hanya melalui analogi atau teori semata.
Kontribusi Ibnu Sina dalam dunia kedokteran menunjukkan betapa pentingnya pengamatan, penelitian, dan eksperimen dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Melalui pemikirannya tentang penyakit menular, karantina, metode pengobatan, serta penggunaan eksperimen dalam kedokteran, Ibnu Sina telah memberikan pengaruh besar yang masih dirasakan hingga perkembangan ilmu medis modern saat ini.
Kontribusi ilmuwan Muslim seperti Jabir bin Hayyan, Al-Khwarizmi, Ibnu Sina dan Ibnu Haitham menunjukkan bahwa rasa ingin tahu dan semangat untuk memahami alam dapat menghasilkan penemuan yang bermanfaat bagi dunia.
Penelitian dan metode ilmiah yang mereka kembangkan tidak hanya mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan pada masanya, tetapi juga menjadi dasar bagi banyak pengetahuan yang kita pelajari hingga saat ini.
Melalui berbagai kegiatan eksperimen sains yang menyenangkan, seperti yang dilakukan di Einstein Science Project, anak-anak dapat mengenal konsep-konsep ilmiah ini sejak dini serta terinspirasi untuk terus belajar dan mengeksplorasi dunia sains.

