Oleh : Tiara Putri Hermanda
“Kenapa roket bisa terbang?”
“Kenapa Bulan terlihat berubah bentuk?”
“Bagaimana manusia bisa pergi ke luar angkasa?”
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini mungkin pernah muncul ketika anak melihat gambar astronot, menonton video tentang roket, atau mengamati Bulan di langit malam.
Luar angkasa memang memiliki daya tarik tersendiri bagi anak. Ada planet yang sangat jauh, roket yang dapat meluncur meninggalkan Bumi, kendaraan yang dapat menjelajahi permukaan benda langit, hingga satelit yang mengorbit Bumi. Luar angkasa selalu punya cara untuk membangkitkan rasa ingin tahu anak. Bayangkan planet-planet yang berada begitu jauh dari Bumi, roket yang melesat menembus atmosfer, kendaraan yang menjelajahi permukaan planet lain, hingga satelit yang terus mengorbit Bumi. Semua itu membuka pintu bagi anak untuk bertanya, membayangkan, dan mengenal lebih jauh tentang luasnya alam semesta.
Namun, mengenalkan luar angkasa kepada anak sebenarnya bukan hanya tentang menghafalkan nama planet atau mengetahui berapa banyak satelit yang mengorbit Bumi.Di balik rasa penasaran tentang luar angkasa, ada kesempatan untuk mengenalkan sains, teknologi, engineering, dan cara manusia memecahkan masalah.
Salah satu momen yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan hal tersebut adalah World Space Week. Namun, mengenalkan luar angkasa kepada anak bukan sekadar menghafalkan nama-nama planet atau mengetahui berbagai benda yang mengorbit Bumi. Di balik rasa ingin tahu mereka tentang luar angkasa, terdapat kesempatan untuk mengajak anak mengenal sains, teknologi, engineering, sekaligus cara manusia menggunakan pengetahuan untuk memecahkan berbagai masalah.
Apa Itu World Space Week?
World Space Week atau Pekan Antariksa Sedunia merupakan perayaan internasional yang berlangsung setiap tahun pada 4–10 Oktober. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan World Space Week melalui Resolusi Majelis Umum PBB 54/68 pada tahun 1999 untuk merayakan kontribusi ilmu pengetahuan dan teknologi antariksa terhadap kehidupan manusia.
Tanggal 4–10 Oktober juga dipilih karena berkaitan dengan dua tonggak penting dalam sejarah antariksa. Pada 4 Oktober 1957, Sputnik 1 diluncurkan sebagai satelit buatan manusia pertama yang mengorbit Bumi. Sementara itu, pada 10 Oktober 1967, Outer Space Treaty mulai berlaku sebagai kerangka hukum internasional mengenai eksplorasi dan penggunaan ruang angkasa. Artinya, World Space Week bukan sekadar perayaan tentang roket, astronot, atau planet. Momen ini merupakan kesempatan untuk mengenalkan bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi antariksa berkembang serta memberikan manfaat bagi kehidupan manusia
Sumber : https://www.nasa.gov/history/65-years-ago-sputnik-ushers-in-the-space-age/
Di tahun 2026, World Space Week mengangkat tema “Rocket Revolution”. Tema ini menyoroti perubahan dan perkembangan teknologi peluncuran serta semakin luasnya akses menuju luar angkasa, termasuk melalui roket yang dapat digunakan kembali, perusahaan komersial, tim universitas, start up, dan berbagai aktor baru dalam kegiatan antariksa.
Lalu, mengapa momen seperti ini penting untuk dikenalkan kepada anak?
Mengapa World Space Week Perlu Dirayakan? World Space Week: Dari Rasa Penasaran Menjadi Pengalaman Belajar
Perayaan hari atau pekan internasional dapat menjadi momentum untuk mengenalkan suatu topik kepada masyarakat dengan cara yang lebih mudah diingat. Dalam konteks World Space Week, luar angkasa dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan sains dan teknologi kepada anak.
1. Karena rasa ingin tahu anak adalah awal dari belajar sains
Anak-anak secara alami memiliki banyak pertanyaan. Mereka mungkin bertanya mengapa Bulan tidak jatuh ke Bumi, mengapa roket membutuhkan bahan bakar, atau mengapa astronot dapat berada di luar angkasa. Pertanyaan tersebut sebenarnya merupakan awal dari proses ilmiah. Daripada langsung memberikan semua jawabannya, kita sebagai orang tua dapat mengajak anak untuk membuat dugaan, melakukan pengamatan, dan mencari tahu bersama. Jadi, World Space Week dapat menjadi alasan sederhana untuk berkata kepada anak: “Kamu penasaran? Yuk, kita cari tahu.”
Anak-anak pada dasarnya adalah penjelajah kecil yang penuh rasa ingin tahu. Mereka bisa saja bertanya, “Mengapa Bulan tidak jatuh ke Bumi?”, “Mengapa roket membutuhkan bahan bakar?”, atau “Bagaimana astronot bisa berada di luar angkasa?” Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut sebenarnya merupakan awal dari proses berpikir ilmiah. Alih-alih terburu-buru memberikan semua jawabannya, orang tua dapat mengajak anak membuat dugaan, mengamati, mencoba, dan mencari tahu bersama. Dengan begitu, rasa penasaran tidak berhenti pada sebuah pertanyaan, tetapi menjadi kesempatan untuk belajar dan menemukan sesuatu yang baru.
Karena itu, World Space Week dapat menjadi momen sederhana untuk mengajak anak memulai petualangan sains dengan satu kalimat: “Kamu penasaran? Yuk, kita cari tahu bersama!”
2. Karena luar angkasa menghubungkan banyak bidang STEM
Ketika membicarakan sebuah roket, sebenarnya kita tidak hanya membicarakan astronomi.Ada banyak ilmu di baliknya. Science membantu manusia memahami fenomena alam dan prinsip fisika.Technology membantu menciptakan berbagai sistem dan perangkat. Engineering digunakan untuk merancang roket, kendaraan, satelit, dan berbagai peralatan yang dapat bekerja di lingkungan ekstrem. Sementara Mathematics digunakan dalam perhitungan dan perencanaan berbagai misi antariksa. Itulah sebabnya luar angkasa dapat menjadi topik yang menarik untuk memperkenalkan pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) kepada anak.
NASA sendiri menyediakan berbagai sumber pembelajaran STEM berbasis misi luar angkasa untuk anak dan pendidik, termasuk aktivitas hands-on, lesson plans, proyek engineering, serta materi tentang eksplorasi Bulan dan luar angkasa. Anak tidak harus langsung mempelajari semuanya secara kompleks.Mereka dapat memulainya dari sebuah pertanyaan sederhana: “Bagaimana caranya membuat sesuatu bisa bergerak?”
3. Karena anak dapat melihat bahwa sains bukan hanya teori
Sains terkadang terasa abstrak ketika hanya dijelaskan melalui buku atau gambar. Misalnya, mengatakan bahwa “gaya dapat menyebabkan benda bergerak” mungkin terdengar sederhana. Namun, ketika anak melihat sendiri sebuah balloon rocket bergerak setelah udara dilepaskan, konsep tersebut menjadi lebih mudah diamati. Begitu pula ketika anak menjatuhkan benda dari ketinggian yang berbeda. Mereka dapat melihat bahwa perubahan kondisi percobaan dapat menghasilkan hasil yang berbeda.Pembelajaran seperti ini membuat anak memiliki kesempatan untuk:
Sains terkadang terasa abstrak ketika hanya dijelaskan melalui buku atau gambar. Misalnya, kalimat “gaya dapat menyebabkan benda bergerak” mungkin terdengar sederhana. Namun, ketika anak melihat sendiri sebuah balloon rocket meluncur setelah udara dilepaskan, konsep tersebut menjadi sesuatu yang dapat mereka amati secara langsung. Begitu pula saat anak mencoba menjatuhkan benda dari ketinggian yang berbeda. Mereka dapat mengamati bahwa perubahan kondisi percobaan dapat menghasilkan hasil yang berbeda. Inilah pengalaman belajar yang membuat sains terasa nyata: anak tidak hanya menerima informasi, tetapi memiliki kesempatan untuk:
mengamati → memprediksi → mencoba → membandingkan → menyimpulkan.
Inilah alasan aktivitas hands-on banyak digunakan dalam pembelajaran STEM.
4. Karena eksplorasi luar angkasa mengajarkan bahwa masalah dapat dipecahkan
Manusia tidak bisa begitu saja pergi ke Bulan atau mengirim kendaraan ke planet lain.Ada banyak masalah yang harus diselesaikan.
- Bagaimana kendaraan dapat bergerak?
- Bagaimana sebuah roket dapat diluncurkan?
- Bagaimana manusia dapat berkomunikasi dengan kendaraan yang berada sangat jauh?
- Bagaimana sebuah kendaraan dapat bekerja di lingkungan yang berbeda dari Bumi?
Pertanyaan seperti ini menunjukkan kepada anak bahwa teknologi hadir dari proses mencari solusi.Dalam aktivitas sederhana pun, anak dapat mengalami proses yang serupa. Misalnya ketika membuat eksperimen Lunar Buggy, mereka mungkin menemukan bahwa kendaraan tidak dapat bergerak dengan baik.
Alih-alih langsung memperbaikinya untuk mereka, anak dapat ditanya: “Bagian mana yang menurut kamu perlu diubah?”, “Bagaimana kalau ukuran rodanya berbeda?”, “Apa yang bisa membuat kendaraan lebih stabil?”
Dari sini, anak mulai mengenal pola berpikir seorang engineer:
design → build → test → improve.
5. Karena luar angkasa membuka wawasan anak tentang dunia yang lebih luas
Anak hidup di satu planet: Bumi. Namun, Bumi hanyalah bagian dari tata surya, sedangkan tata surya berada di dalam galaksi Bima Sakti yang jauh lebih luas. Mengenalkan luar angkasa dapat membantu anak melihat bahwa dunia yang mereka kenal hanyalah sebagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar.Tidak harus dimulai dengan penjelasan yang rumit. Anak hidup di satu planet, yaitu Bumi. Namun, Bumi hanyalah bagian dari tata surya, sementara tata surya berada di dalam Galaksi Bima Sakti yang jauh lebih luas.
Mengenalkan luar angkasa kepada anak dapat membantu mereka memahami bahwa dunia yang selama ini mereka kenal hanyalah sebagian kecil dari alam semesta yang begitu luas. Tidak perlu dimulai dengan penjelasan yang rumit. Orang tua dapat mengajak anak memulainya dari hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan mereka, seperti mengamati Bulan, mengenal planet, atau bertanya-tanya tentang bagaimana roket dapat terbang ke luar angkasa.
Anak dapat mulai dengan mengenal:
- Matahari
- Bumi
- Bulan
- planet
- bintang
- galaksi
- astronaut
- roket
- satelit
Dari sana, rasa ingin tahu mereka dapat berkembang secara bertahap.
World Space Week Bukan Hanya untuk Anak yang Ingin Menjadi Astronot
Ketika mendengar kata “luar angkasa”, mungkin yang langsung terbayang adalah astronaut.Padahal, eksplorasi luar angkasa melibatkan jauh lebih banyak bidang dan profesi.Ada scientist, engineer, programmer, designer, mathematician, teknisi, ahli komunikasi, hingga berbagai profesi pendukung lainnya.Karena itu, mengenalkan luar angkasa kepada anak bukan berarti mengarahkan mereka untuk menjadi astronot.
Yang lebih penting adalah memberikan pengalaman bahwa sains dan teknologi dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan dan menyelesaikan masalah.Anak yang hari ini tertarik membuat roket mungkin suatu hari tertarik pada engineering.Anak yang senang mengamati Bulan mungkin tertarik pada astronomi.Anak yang suka merancang kendaraan mungkin menemukan ketertarikan pada teknologi atau desain.
Dan anak yang suka bertanya “kenapa?” mungkin sedang membangun kebiasaan berpikir ilmiah.
Bagaimana Cara Merayakan World Space Week Bersama Anak?
Merayakan World Space Week tidak harus selalu dilakukan dengan kegiatan besar.Orang tua dapat mengajak anak melakukan aktivitas sederhana di rumah, sekolah, maupun lingkungan belajar.
Misalnya:
- mengamati Bulan di malam hari,
- membaca buku tentang luar angkasa,
- membuat model tata surya,
- menonton video edukasi tentang roket,
- membuat desain kendaraan Bulan,
- melakukan eksperimen gaya dan gerak,
- atau mencoba aktivitas STEM bertema luar angkasa.
Yang terpenting bukan seberapa rumit aktivitasnya.Tetapi apa yang anak lakukan setelah melihat atau mencoba sesuatu.Karena proses itulah yang membuat aktivitas sederhana berubah menjadi pengalaman belajar.
3 Eksperimen dari Einstein Science Project untuk Memeriahkan World Space Week
Setelah mengenal mengapa World Space Week penting, orang tua dapat mengajak anak mengeksplorasi tema luar angkasa melalui berbagai aktivitas.
1. Eclipse Experiment
Eclipse Experiment: Memahami Bagaimana Gerhana Terjadi
Gerhana merupakan salah satu fenomena luar angkasa yang menarik untuk dikenalkan kepada anak. Melalui Eclipse Experiment, anak dapat melihat secara langsung bagaimana posisi Matahari, Bumi, dan Bulan dapat menyebabkan terjadinya gerhana. Dalam aktivitas ini, anak menggunakan model sederhana untuk merepresentasikan Matahari, Bumi, dan Bulan. Dengan mengubah posisi ketiganya, anak dapat mengamati bagaimana cahaya dari Matahari dapat terhalang oleh benda lain dan menghasilkan bayangan.
Eksperimen ini membantu anak memahami bahwa gerhana tidak terjadi karena Bulan atau Matahari tiba-tiba menghilang, tetapi karena adanya posisi tertentu antara ketiga benda langit tersebut. Dari eksperimen sederhana ini, anak belajar bahwa dalam astronomi, posisi dan pergerakan benda-benda langit sangat berpengaruh terhadap fenomena yang kita lihat dari Bumi
2. Lunar Buggy
Lunar Buggy: Bagaimana Kendaraan Bisa Menjelajah Permukaan Bulan?
Bagaimana manusia bisa menjelajahi permukaan Bulan tanpa berjalan kaki sepanjang waktu? Melalui aktivitas Lunar Buggy, anak diajak mengenal konsep kendaraan eksplorasi yang digunakan untuk membantu manusia menjelajahi permukaan benda langit. Anak dapat mengamati bagaimana sebuah kendaraan dirancang agar mampu bergerak membawa manusia atau peralatan di lingkungan yang berbeda dari Bumi. Aktivitas ini juga dapat menjadi pengenalan sederhana terhadap engineering dan problem solving. Anak dapat diajak memperhatikan bagaimana bentuk roda, ukuran kendaraan, serta sumber energi dapat mempengaruhi kemampuan kendaraan untuk bergerak.
Setelah mencoba Lunar Buggy, anak dapat diajak berdiskusi:
“Kalau kendaraan ini harus digunakan di Bulan, menurut kalian apa yang perlu diubah agar bisa bekerja dengan baik?”
Pertanyaan tersebut mendorong anak untuk tidak hanya melihat kendaraan sebagai sebuah benda, tetapi mulai berpikir seperti seorang engineer: bagaimana sebuah teknologi harus dirancang agar dapat digunakan untuk menghadapi kondisi tertentu? Melalui Lunar Buggy, eksplorasi luar angkasa menjadi lebih dekat dengan dunia anak karena mereka dapat melihat bahwa misi menjelajah luar angkasa membutuhkan perpaduan antara sains, teknologi, engineering, dan kreativitas.
3. Palapa Satellite Model
Palapa Satellite Model: Mengenal Teknologi Satelit yang Menghubungkan Bumi
Ketika membicarakan luar angkasa, anak mungkin langsung membayangkan astronaut, roket, dan planet. Padahal, teknologi luar angkasa juga memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari melalui satelit. Melalui Palapa Satellite Model, anak diajak mengenal satelit dan memahami bagaimana benda yang berada di luar angkasa dapat membantu manusia di Bumi.
Anak dapat mengenal Satelit Palapa, salah satu bagian penting dalam sejarah perkembangan teknologi komunikasi satelit di Indonesia. Dari model yang dibuat, anak dapat mengamati bagian-bagian sederhana dari sebuah satelit dan mendiskusikan mengapa satelit perlu ditempatkan di luar angkasa.
Aktivitas ini juga dapat menjadi kesempatan untuk mengajak anak berpikir:
“Kalau tidak ada satelit, bagaimana manusia bisa berkomunikasi dengan orang yang berada sangat jauh?”
Dari sini, anak dapat memahami bahwa satelit dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, termasuk komunikasi dan penyampaian informasi.
Palapa Satellite Model menunjukkan kepada anak bahwa eksplorasi luar angkasa bukan hanya tentang pergi ke planet lain. Teknologi yang dikembangkan untuk ruang angkasa juga dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia di Bumi. Dengan begitu, anak dapat melihat hubungan antara luar angkasa, teknologi, dan kehidupan sehari-hari secara lebih nyata.

